Foto dari Galina N (Unsplash)
Terbesit pertanyaan pada diriku, kenapa beberapa hubungan bisa terjaga hingga waktu yang lama tanpa butuh usaha lebih, namun hubungan lain malah terlepas tanpa sisa walau kita sudah pertahankan sekuat mungkin?
Sebab Berhubungan
Aku tidak suka mengakui ini, tapi kenyataannya memang hati manusia suka menaruh harapan kepada orang lain: Harapan untuk dicintai, disayangi, dilihat… Dan kita mengejar perasaan tersebut. Harapan dan rasa tersebut yang membuat filter dan bias tumbuh dalam hati kita. Kita mengharapkan balasan, timbal balik.
Ironisnya, sebagian besar hubungan manusia memang seperti itu. Untuk beberapa orang, mungkin itu perasaan untuk didengarkan, atau bantuan, ilmu, uang, atau mungkin hanya memuaskan nafsu cinta kita sendiri… pada akhirnya akar tujuannya adalah keegoisan kita sendiri.
Bias tersebut muncul dari sisi gelap hati kita sendiri, yang mendambakan harapan.
kita melihat mereka dengan kacamata bias kita; memberikan banyak hal untuk mereka, dengan harapan mereka membalas balik. Ketika mereka tidak bisa memberikan hal tersebut, atau mereka mengutarakan kekecewaan atau perkataan yang membuat kita sedih, kita kecewa… dan barulah kita sadar kalau hubungan tersebut bukanlah hubungan yang baik.
Niat dan tindakan kita tersebut sudah salah: karena keegoisan kita sendiri. Makin kita paksa, makin lelah pula mereka. Tidak ada yang bisa memenuhi harapan kita tersebut jika kita tetap egois dan berharap terlalu besar, yang ada mereka akan lelah dan menjauh.
Dan kita akan kembali sendiri, dengan rasa kesepian kita.
Apakah memang manusia seegois itu, dan tidak ada hubungan yang sebabnya benar-benar tulus karena ingin berhubungan dan memang peduli dengan rekan kita? Tentu ada, tapi di zaman saat individualitas lebih diutamakan, hubungan seperti itu makin jarang.
Jenis Hubungan
Sejauh ini, aku merasa ada dua jenis hubungan, terlepas dari hubungan tersebut ikatan darah atau bukan: hubungan dangkal dan dalam/erat.
Hubungan dangkal umumnya terjadi karena ada kesamaan; hobi, pekerjaan, kuliah, dan lainnya. Kita merasa akrab dan bersenang-senang dengan mereka karena ada tujuan bersama. Namun ketika urusan tersebut sudah selesai, hubungan tersebut menjadi renggang. Bahkan kalaupun ada komunikasi, itu bukanlah untuk menyambung silaturahmi, namun karena butuh sesuatu.
Hingga kemudian terputus, dan tiap-tiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Ketika tidak ada kesamaan yang bisa ditemukan lagi antara 2 orang, akan sulit untuk menjaga hubungan tersebut.
Lalu hubungan yang dalam dan erat, ada ikatan kokoh di dalamnya. Mungkin pertemuan ini terjadi karena suatu sebab atau pertemuan seperti sebelumnya, tetapi hubungan tersebut bertahan lama. Ikatan yang dirasa lebih dalam, ada keterbukaan dan kepedulian antara satu sama lain. Dan kepedulian ini tulus, bukan karena ada ikatan pekerjaan atau maksud tertentu, tetapi memang karena peduli dengan diri kita saja, apa adanya.
Hubungan tersebut terjaga. Bahkan misal tidak terhubung berbulan-bulan, hubungan tersebut tetap ada dan erat.
Hubungan yang erat ini umumnya terbangun karena sudah ada ikatan kebersamaan yang cukup lama, walau ada juga hubungan erat yang terjadi dengan hubungan yang hanya sebentar saja.
Menurutku, yang membedakan hubungan dangkal dan erat adalah jenis ikatannya. Hubungan dangkal terikat oleh sesuatu yang sementara dan fana. Fokusnya ada pada ikatannya, bukan orangnya. Sedangkan, hubungan erat dibangun oleh waktu dan kedalaman, dan fokus ikatan tersebut beralih dari tujuan bersama menjadi ke orangnya. Dan ini lebih kokoh.
Mungkin karena itu hubungan kekeluargaan lebih bertahan lama, karena ada ikatan darah. Melewati suka duka bersama, dan ada ikatan di dalamnya. Walau sekarang ironisnya banyak keluarga yang tidak peduli satu sama lain.
Ironisnya, kesenangan tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai kedalaman suatu hubungan. Kutipan di bawah ini cukup menggambarkan maksudku:
“Everybody isn’t your friend. Just because they hang around you and laugh with you doesn’t mean they’re for you. Just because they say they got your back, doesn’t mean they won’t stab you in it. People pretend well. Jealousy sometimes doesn’t live far. So know your circle. At the end of the day real situations expose fake people so pay attention.” - Trent Shelton
Walau aku deskripsikan seperti itu, bukan berarti koneksi dangkal tidak berarti. Sebagai manusia, kita tetap butuh koneksi. Entah koneksi dangkal atau dalam. Minimal untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai makhluk sosial.
Ditambah -seperti koneksi dalam yang bisa menjadi dangkal karena tidak dipupuk, koneksi erat itu baru bisa didapat setelah kita meluangkan waktu dengan koneksi dangkal, bukan?
Mencari Koneksi Dalam
Kunci interaksi antarmanusia semuanya sama: Kesamaan untuk berbaur dan pemakluman (atas kesalahan) untuk tetap berlanjut. karena sekali lagi, manusia tidak ada yang sempurna.
Tapi dari ini semua, Kuncinya adalah kejujuran atas kecocokan. Terkadang seseorang memaksakan hubungan yang tidak cocok karena alasan ‘sayang’, dan ini dapat menyiksa kedua belah pihak. Kalaupun awalnya terlihat lancar, Itu bisa menjadi bom waktu.
Tidak semua hubungan bisa—atau memang seharusnya—menjadi dalam. Dan itu tidak apa. Tapi bukan berarti kita memaklumi segalanya. Ketika ada yang meracuni, menolak nasihat, atau membuat kita jatuh, kita punya pilihan: bertahan atau pergi.
Lalu, untuk bisa mendapatkan koneksi dalam, Kita perlu belajar untuk terbuka lebih dulu sebelum kita meminta orang lain untuk terbuka. Dan belajar untuk percaya sebelum meminta orang lain membuktikan kepercayaan tersebut.
Harus dimulai dari diri sendiri, menjadi seseorang yang kita harap bisa menjadi teman kita.
Mungkin dalam pencarian ini, kita akan merasakan kekecewaan. tapi kalau misal kita tidak mencoba, kita tak akan menemukan kasih sayang dan kebaikan tersebut bukan? Kita juga tidak bisa berdakwah ke manusia kalau kita tidak kuat menghadapi kekecewaan atas penolakan.
Jadi, jika ingin mendapatkan hubungan yang dalam, kita harus menerima dan siap untuk kecewa.
Dan mungkin saja, setelah kekecewaan yang kita dapat berulang kali tersebut, kita bisa mendapatkan hubungan yang benar-benar tulus, saling menyayangi dan menerima apa adanya, dan bahu membahu berharap kebaikan orang yang kita cintai tersebut dengan tulus. Dan, kita pun mendapatkan cinta tulus yang sama juga, seperti yang kita berikan. Allah akan membalas sesuai dengan usaha kita.
dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (Q.S. An-Najm, 53:40-41)
Dan Cinta sejati itu adalah cinta yang tulus karena mengharapkan kebaikan orang yang kita cintai tersebut, seperti kita mengharapkan kebaikan pada diri kita sendiri.
Seperti pada hadist di bawah:
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan puncak dari itu semua, cinta karena Allah, benci karena Allah. Dan itu lebih kekal, dan abadi. Allah yang menumbuhkan rasa kasih sayang dan ikatan antara seseorang, dan ikatan tersebut dijaga oleh Yang Maha Kekal.
Siapa lagi penghubung dan penjaga yang paling baik selain-Nya?
Cukuplah tulisan kali ini sebagai pengingat agar kita tidak menyerah. Dan mohonlah pada Allah agar dipertemukan dengan koneksi yang tulus, serta agar Allah menjaga koneksi tersebut hingga surga-Nya kelak.