image-logo
Belakangan mulai membaca terjemahan al-qur'an di samping tilawah seperti biasa. Dan kalau misal ada kata yang bisa aku sampaikan mengenai ini adalah: kenapa aku tidak lakukan ini dari dulu?
post
/post/tadabbur-quran/
Membaca Terjemahan Al-Qur'an dan Imbasnya pada Keimanan

Membaca Terjemahan Al-Qur'an dan Imbasnya pada Keimanan

hero-image-tadabbur-quran

Foto dari Unsplash

Belakangan mulai membaca terjemahan al-qur'an di samping tilawah seperti biasa. Dan kalau misal ada kata yang bisa aku sampaikan mengenai ini adalah:

kenapa aku tidak lakukan ini dari dulu?

Walau tilawah langsung dengan arabnya juga bernilai pahala, tetapi merenungi langsung maknanya -dan dalam beberapa hal, membaca tafsirnya, memperdalam keimanan yang ada di hati. jauh dibandingkan hanya tilawah berkali-kali.

Jadi pertanyaan sendiri, kenapa dalam pendidikan agama, lebih difokuskan untuk tilawahnya saja? Maksudku, memang bagus tahsin dan tilawah dengan bernilai pahala, tapi dasarnya qur'an diturunkan untuk direnungi.

Apa karena orang-orang berpikir al-qur'an itu terlalu rumit untuk dipahami secara langsung? Padahal penjelasan yang ada dalam sini gamblang dan sangat jelas sekali. Saking jelasnya, aku sampai bingung sendiri, bagaimana orang-orang bisa mendapatkan penafsiran yang salah dari penjelasan yang sangat-sangat gamblang dan simpel ini?

Tapi memang, dari membaca ini juga aku diingatkan, kalau misal hidayah itu hanya dari Allah. Kita bisa berusaha semampu kita untuk berdakwah dan menjelaskan, tapi kalau Allah tidak buka hati seseorang untuk menerima hidayah, walau tinggal di lingkungan yang sangat agamis sekalipun, akan sulit. Itu orang-orang kafir quraisy yang tinggal dan melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam langsung juga menolak.

Menambah Ilmu, Hikmah, dan Pemahaman Moral

Dalam al-qur'an, banyak pelajaran dan ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dalam surat al-Hujurat, di situ diajarkan mengenai adab dengan sangat jelas. Dan juga surat-surat lainnya, seperti tentang Kaum Yahudi dan Munafik, dan ciri-ciri mereka sebagai renungan agar kita tidak mengikuti sifat-sifat buruk tersebut.

Yang paling mengena, banyak dari ilmu-ilmu tersebut yang disampaikan dengan jelas dan gamblang, tanpa aku harus mencari-cari ke banyak tempat terutama tempat-tempat yang tercampur syubhat. Dari sini aku bisa lihat, kalau bisa kita menulis dan menyampaikan ilmu dengan jelas, tanpa perlu mencampur syubhat hanya agar diterima masyarakat. Cukup mengatakan jujur apa adanya, dan bagikan. Toh pada akhirnya, Allah-lah yang membuka hati orang-orang untuk menerima hal tersebut.

Sekali lagi, Tugas kita hanya menyampaikan; diterima atau tidak, itu kehendak Allah.

Imbasnya dengan Iman

Masalah iman ini sebenarnya sederhana, tapi di satu sisi kompleks juga sih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al ‘Aqidah Al Wasithiyyah di mana beliau berkata

,فَصْلٌ : وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ .

“Fasal: Di antara pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa agama dan iman terdiri dari: perkataan dan amalan, perkataan hati dan lisan, amalan hati, lisan dan anggota badan. Iman itu bisa bertambah dengan melakukan ketaatan dan bisa berkurang karena maksiat.”

Yang aku rasakan, membaca al-qur'an menambah keimanan dalam hati dan mendorong diri untuk mengamalkan islam dengan lebih dalam. Tindakan ini dalam perkataan dan perbuatan, termasuk di dalamnya mempelajari ilmu agama dengan lebih dalam.

Singkatnya, iman tersebut menjadi pendorong perilaku.

Maka di sini, mestinya jika hati kita bersih dan beriman, itu tercermin dari tindakan kita. Makin kuat iman dalam hati kita, makin tercermin hal tersebut dalam perkataan dan tindakan kita. Tentulah tidak layak dikatakan "yang penting hatinya bersih", tapi banyak melakukan dosa dengan sadar. Karena tidak konsisten antara hati dan tindakan. Kalaupun memang hatinya menolak, itu menunjukkan selemah-lemahnya iman.

Pendorong tindakan tidak hanya iman saja; bisa saja karena riya', ujub, tekanan masyarakat eksternal, dan banyak hal lainnya. Makanya ada hadist tentang 3 orang yang pertama dihisab untuk renungan, dan pentingnya untuk selalu meluruskan niat.

Singkatnya, jika hati kita beriman, tindakan kita akan mengikuti semampu kita. Namun, tindakan yang terlihat indah dan baik belum tentu karena hati yang lurus. Pada akhirnya, tergantung situasi dan kondisi.

Cukup Nilai Luarnya

Tentang hal tersebut, aku juga mempelajari di al-qur'an, kalau bukan tugas kita untuk menilai isi hati seseorang; itu hanya Allah yang tahu. Tapi, tugas kita cukup melihat luar (Zhahir)-nya saja, dan menilai dari situ. Sehingga bukan tugas kita untuk menjadi hakim atas isi hati seseorang...

Walau begitu, dulu Rasulullah dan para Sahabatnya biasa mengingatkan orang-orang, bahkan khaulafa rasyidin... Ini menurutku keren jujur. Jarang di zaman sekarang yang mengingatkan untuk hal ini. Terutama karena hati itu sangat mudah terombang-ambing.


Kalau ada satu hal penutup yang bisa aku sampaikan, adalah coba mulai baca qur'an dengan tadabbur; baca artinya dan pahami pelan-pelan. Walau mungkin progress tilawah pribadi melambat, tetapi coba mulai biasakan dan lihat bedanya pada iman kita.

Al-qur'an dipelajari bukan dengan cepat-cepat, tetapi dengan renungan pelan-pelan, dan itu yang lebih mengena di hati.

Dan ketika mempelajari hal tersebut, luruskan niat kita kalau kita mempelajari qur'an untuk meraih ridha Allah dan menambah ilmu. Ini harus berkali-kali diingatkan jujur, karena pentingnya niat dan imbasnya ke hasil akhir.

Akhir kata, semoga Allah menambah ilmu dan keimanan kita, serta ridho dengan kita.

Penulis: Zira Fariza