Dia tersenyum,, menyapa diriku
"Mau makan," tanyanya, "bareng kakak?"
Menggeleng, berjalan meninggalkannya
Membiarkan, dia hanya terdiam
Terlihat baik, luarnya
Nyatanya jahat, di dalamnya
Bagaimana? diri hanya tahu
Karena diri, membenci kakak
Duduk, diri membuka telepon
Menekan satu nama, menunggu dering
"Halo?" terdengar, dari ujung sana
Mulailah diri bercerita
Bercerita, berceloteh, berbicara
Panjang-lebar, ia itu hanya diam
Syahdu mendengarkan, ia yang kusebut "hantu"
Lega, mengeluarkan isi hati
Bertanya, kenapa dia bukan kakakku
Kenapa kakakku, adalah orang itu
"Berhenti Menggangguku!"
Kepala diri berkunang, menepis tangannya
Pecah, gelas berisi teh panas
Yang di bawa olehnya, orang yang paling kubenci
"Berhenti menegurku" diri tergugu
"Lebih mudah jika kau tidak peduli"
Walau hanya pura-pura
Menganggapku tiada,
Melangkah, diri lari meninggalkannya
Kabur dari rumah, mengabaikan panggilan-Nya
Di lokasi yang tiada kutahu
Kuhubungi sang hantu
Belum sempat suaranya terdengar, diri sudah meledak
"Aku tidak suka! Aku Benci Dia!"
"Kenapa dia harus bersikap seperti itu?"
"Sok baik, seperti lupa perlakuannya"
"Perlakuan kasarnya dulu padaku"
'Kenapa?" isak diri, "Kenapa harus dia kakakku?"
Sang hantu masih terdiam
Membiarkan isak tangisku keluar
Mengalir, mengeluarkan seluruh pendam
"Karena dia kakakmu" ucapnya
"Karena itulah takdirmu" lanjutnya
"Jika begitu perlakuannya, bisa jadi dia merasa bersalah"
"bersalah, atas perlakuannya dulu"
"cobalah" ucapnya, "buka hatimu, maafkan dia"
Diri masih terisak, terdiam
Memaafkannya? itu hal yang berat.
Terbuka, mata diri
Silau, tertimpa cahaya putih
Sakit, seluruh badan
Kulihat, dibaluri perban
"Kau hampir terbakar" Suster berbicara
"Kau tertidur di gedung tua, yang akan dibakar"
Apa maksu --- "uhuk" Gedung tua tempatku kabur?
"Beruntung orang ini datang, membawamu"
"tergopoh-gopoh, dengan muka pucat"
Di samping, kakak tertidur
Badannya kotor, berkas asap
"Dia tiada ingin pindah" Ucap suster
"Setia ingin menjagamu"
Lekat, kulihat baik-baik wajahnya
Seketika, teringat perkataan hantu kemarin
Teringat, seluruh perlakuannya padaku
Teringat, seluruh perlakuanku padanya
jatuh, satu butir air mata
Dua, tiga, mengalir tiada henti
Menjatuhkan, rasa bersalah yang muncul
membangunkan, kakak yang sedang tertidur
Perlahan mendekati diriku
khawatir, jika ada yang sakit
Pecah, main kencang tangisku
memeluk erat dirinya
"Maaf" hanya kata itu yang keluar
Terima kasih, yang ada dalam hatiku
Karena kau kakakku