image-logo
Sebagai manusia, kita perlu bersyukur terhadap nikmat yang ada dalam hidup, sekecil apapun. Sayangnya, banyak yang luput akan bersyukur dari nikmat yang kecil, dan hanya mensyukuri hal-hal besar saja.
post
/post/hal-biasa-dalam-hidup/
Mensyukuri Hal-hal Biasa dalam Hidup

Mensyukuri Hal-hal Biasa dalam Hidup

Waktu Membaca: 3 Menit

Setelah sekian bulan, aku akhirnya jalan lagi dengan keluarga.

Sejujurnya, tidak banyak yang berubah; hampir sama seperti saat berpisah. Tapi bisa melihat suasana ini kembali membuat hati tentram.

Dulu aku pernah menulis soal beberapa nikmat yang terkadang dilupakan dan juga soal berkah waktu kosong. Kalau diperhatikan baik-baik, sebenarnya kedua hal tersebut hal yang biasa saja dalam hidup. Sama seperti waktu bersama keluarga; sebuah hal lumrah.

Tapi pada dasarnya, hidup itu memang diisi hal-hal yang biasa saja bukan?

Terkadang kita baru merasakan nikmat dan berkah atas hal biasa tersebut, ketika kita sudah tidak memilikinya. Koneksi keluarga, kesehatan, masa muda, agama, dan lainnya.

Ketika hal-hal yang kita taken for granted sudah tidak mudah diakses lagi, barulah kita menyadari nilainya.

Mungkin karena kita menganggap hal-hal biasa tersebut sebagai hal yang pasti selalu ada. Dan juga dengan banyak media-media menunjukkan kalau hal yang patut disyukuri adalah hal yang tidak biasa atau pencapaian luar biasa. Kita tidak diajarkan bersyukur untuk hal-hal kecil dalam hidup kita, seperti oksigen, indra tubuh, kerabat dan keluarga, kesehatan, dan lainnya.

Contoh kecil seperti banyak orang islam, yang setelah beberapa waktu tinggal di negara kafir baru menyadari berkahnya islam dan tinggal di negara muslim, seperti banyaknya mesjid dan makanan halal. Kemajuan teknologi tidak bisa menyaingi itu.

Hal lain yang menyebabkan keluputan ini bisa jadi karena lebih banyak orang yang bergerak dengan mode autopilot. Mereka menjalani hidup mengikuti arus saja, mengejar pencapaian eksternal, dan sibuk dengan urusannya, sehingga sedikit waktu untuk muhasabah.

Sejujurnya, ini hal yang harus dilatih dari dini. Membiasakan untuk mensyukuri nikmat Allah, sekecil apapun dari saat ini juga. Kalau kita sudah biasa mensyukuri nikmat sekecil apapun, kita tidak harus menunggu nikmat itu dicabut agar sadar betapa berharganya nikmat tersebut.

Bisa dimulai dari hal sederhana saja.

Bayangkan semisal kita tidak bisa melihat. Tidak bisa membaca dan menikmati keindahan alam dan langit.

Atau bayangkan, semisal kita tidak bisa mendengar. Kita tidak bisa mengobrol dan komunikasi dengan orang lain.

Atau Bayangkan, semisal kita tidak diberikan nikmat islam. Betapa mudahnya kita tersesat dan terombang-ambing dalam hidup ini, karena tidak memiliki tuntunan hidup yang pasti.

Atau bayangkan, semisal kita jauh dari keluarga yang kita cintai...

Masih banyak lagi kalau diterusskan.

Kita bisa latih ini dengan pelan-pelan. Tidak ada kata terlambat. Memang benar firman Allah di surat Ar-rahman:

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahman, 55:13)

Semoga kita bisa lebih mensyukuri nikmat yang kita miliki, sekecil apapun.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam