image-logo
Tulisan tentang amalan islam paling minimal yang perlu dilakukan orang muslim agar bisa masuk surga, sebagai reminder ramadhan.
post
/post/islam-sebagai-petunjuk-hidup/
Islam Sebagai Petunjuk Hidup

Islam Sebagai Petunjuk Hidup

Waktu Membaca: 6 Menit

Mumpung habis ramadhan, aku mau nulis lagi artikel soal Islam. Sebagai reminder juga agar amalan-amalan dan kebiasaan baik yang dilakukan ketika ramadhan tidak hanya berbekas selama 1 bulan saja, tetapi juga konsisten dilakukan terus-menerus. Dan semoga itu bisa jadi amal yang pahalanya terus mengalir.

Judul alternatifnya adalah 'islam paling minimal', Karena ini seminimal-minimalnya amalan wajib yang harus dilakukan umat islam, agar bisa selamat di akhirat nanti. Selain itu, ini jadi pengingat untuk diri aku sendiri juga untuk mengetahui hal paling minimal yang harus dilakukan seorang muslim. Orang yang biasanya sudah belajar banyak hal, terkadang bingung membedakan mana hal yang paling dasar dan tidak boleh lepas, dan hal yang masuknya rekomendasi. Imbas dari itu, prioritasnya terkadang suka tercampur. Harapannya dengan tulisan ini, aku bisa mencatat hal paling dasar yang tiap muslim harus lakukan tanpa kecuali.


Banyak orang mengira, kalau misal islam itu hanya sekedar shalat, puasa, umrah, dan itu terpisah dari kehidupan nyata. Aslinya, agama islam bukan hanya sebatas itu: it's a way of life. Petunjuk hidup dengan selamat di dunia dan akhirat. Dan sebagai jalan hidup, tentu itu berperan sebagai peta terbaik, karena peta tersebut diberikan oleh Rabb semesta alam.

Petunjuk disini, bukan hanya dalam urusan ibadah, tapi juga dalam urusan duniawi. Dan patokan kita, sebagai umat muslim, adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Al-qur'an seperti teori dasar islam, dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah implementasinya, yang mana itu mencakup semua hal; baik duniawi maupun ibadah. Makanya islam disebut agama Rahmatan Lil 'alamin. Well kalau sampai segitu tentu udh tahu lah.

Dan di islam juga, kita diajarkan soal hubungan kita dengan lainnya. Dan namanya hubungan, ada yang vertikal (Hablum Minallah), dan Horizontal (Hablum Minannaas). Kedua hubungan tersebut dapat membantu kita untuk bisa meraih surga-Nya.

Yang mau aku bahas di artikel ini, adalah pengembangan dari 2 hadist dan 1 ayat berikut, yang menurutku cukup mencerminkan minimal amalan yang harus kita lakukan agar bisa masuk surga:

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari radiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika aku shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, lalu aku tidak menambah selain amalan itu, apakah aku masuk surga?” Rasulullah menjawab, “Ya.” (HR. Muslim)

Akar dari itu semua, adalah 2 kalimat syahadat: Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah. Konsekuensi dari mengimani 2 kalimat syahadat ini, artinya kita menerima islam secara seluruhnya; dengan ikhlas dari hati, tanpa paksaan. Kita mengimani dan memercayai apa yang Allah turunkan melalui Rasul-Nya, dan menjalani perintahnya semampu kita.

Dari sini, kita luruskan niat kita sebagai orang beriman, kalau kita beribadah, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, karena Allah semata; bukan karena disuruh manusia, bukan karena paksaan, ataupun bukan karena harap akan keinginan dunia.

Kita lakukan ini ikhlas karena Allah, untuk beribadah kepada-Nya.

Meluruskan niat ini sulit, karena terkadang itu bisa bercampur dengan niat lain, sehingga tidak murni lagi. Entah karena kita mengharapkan manfaat duniawi dari ibadah kita, atau mungkin tidak ikhlas dan ada manfaat terselubung dari pertolongan yang kita lakukan. Tentunya, kita perlu berkaca dan merenungi niat kita setiap saat.

Dan ibadah yang paling minimal, yakni Hablum Minallah, adalah:

  • Shalat 5 Waktu; tidak bolong, bukan hanya ketika ramadhan saja tentunya.
  • Puasa di bulan Ramadhan; sembari memaksimalkan ibadah kita.
  • Zakat; Termasuk Zakat fitrah di bulan Ramadhan, dan Zakat mal saat sudah sampai nishabnya.
  • Haji ke Baitullah; Jika Mampu
  • Melaksanakan perintah-Nya, menjauhi Larangan-Nya; semampu kita. Ini sangat luas jadi untuk ini cukup general saja.
  • Belajar Agama; belajar benar-benar memahami al-qur'an dan hadist, baca buku, dan lainnya, tidak hanya taklid buta mengikuti kultur. Ajaran agama sekarang banyak yang sudah tercampur dengan kultur sehingga mungkin banyak yang kita kira ajaran agama, ternyata hanya bagian dari budaya.

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan, اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Setelah itu, kita juga perlu memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, Hablum Minannaas, dengan cara Berakhlak baik. Honestly that's it. Ada banyak sebenarnya, tapi itu yang paling minimum. Berakhlak baik ke orang lain, jujur, tolong menolong, amanah, sopan santun, menyambung silaturahim, tidak berdusta, dan amalan-amalan baik lainnya. Akan banyak kalau disebutkan, tapi intinya berlaku baik dengan sesama manusia.

Salah satu hadist bagus soal akhlak baik:

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya seperti apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45).

Kalau kita ingin diperlakukan baik, tentu kita juga perlu memperlakukan orang lain dengan baik juga bukan?

Walau terlihat mudah, mungkin akan sulit juga akhlak baik ini, karena lebih banyak manusia saat ini yang mementingkan dirinya sendiri dibandingkan berakhlak baik, sehingga rasanya berat. Tapi yang harus kita ingat, luruskan niat baik tersebut, karena Allah. Bukan karena balasan dari manusia, tapi agar Allah Ridha dengan kita.

Kemudian Beriman, yakni memercayai keenam rukun iman: Beriman kepada Allah, Malaikat, Rasul-rasulnya, Kitab-kitabnya, Hari Akhir, dan Qadha dan Qadar. Kalau sebelumnya hanya amalan tampak, kali ini kita meyakini dalam hati kita akan semua konsekuensi dan implikasi dari amalan tersebut. Kita pun percaya akan semua hal-hal yang terlihat ghaib tersebut; seperti percaya akan adanya hari akhir (yang merupakan perhitungan atas semua perbuatan dan keyakinan kita), dan takdir (bahwa ada hal di luar kontrol kita; dan ada yang mengatur ini semua).

Dan tingkatan tertinggi dari itu semua, adalah ketika kita sudah mencapai derajat ihsan. Ihsan, artinya beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, Allah akan melihatmu. Singkatnya, kita sadar kalau Allah selalu melihat kita; seluruh usaha kita, kesedihan kita, amalan kita, baik ketika kita di tempat ramai maupun sendirian, baik yang kita katakan, maupun yang tersembunyi di hati kita.

Dengan begitu, kita menjadi sadar dengan tindakan kita sendiri, dan selalu berlaku yang terbaik dan adil atas semua tindakan kita. Karena kita tahu, kalau Allah selalu mengawasi, dan semua yang kita lakukan tidak akan sia-sia, walau hanya kebaikan sebesar biji sawi, yang dilakukan di gelap tengah malam dan tidak ada yang mendukung.

Semoga dengan ini, kita bisa meraih ridha Allah dan sampai ke surga-Nya.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam