image-logo
Sebagai manusia, tentunya kita ingin selalu mendapat kenikmatan dan kebahagiaan bukan? Karena rasa tidak nyaman itu tidak enak. Tapi yang salah adalah, kalau kenyamanan dan kebahagiaan ini dijadikan tujuan utama.
post
/post/kebahagiaan-dan-kasih-sayang-sejati/
Meraih Kebahagiaan dan Rasa Sayang Sejati

Meraih Kebahagiaan dan Rasa Sayang Sejati

Waktu Membaca: 4 Menit

Sebagai manusia, tentunya kita ingin selalu mendapat kenikmatan dan kebahagiaan bukan? Karena rasa tidak nyaman itu tidak enak. Tapi yang salah adalah, kalau kenyamanan dan kebahagiaan ini dijadikan tujuan utama.

Mungkin ini efek dari perkembangan zaman yang lebih liberal dan individualis, sehingga ketika membicarakan kenyamanan dan kebahagiaan, kita hanya fokus pada aspek kenikmatan saja. Seperti Hiburan, atraksi, kenyamanan, kesempurnaan, harta, kedudukan, dan lainnya.

Bahkan cinta dan kasih sayang, yang merupakan perasaan positif, hanya dikaitkan dengan perasaan tersebut saja: kenikmatan. Jadi kita berdalih memenuhi hasrat, kenyamanan, dan kebahagiaan terus-menerus dengan dalih cinta atau sayang.

Contoh yang paling umum adalah self-love. Memang kita perlu mencintai dan menghargai diri kita sendiri, tetapi banyak yang memakai self-love sebagai alasan untuk memuaskan nafsu. Berdalih dengan alasan cinta, kita berfoya-foya dan memenuhi hasrat kita tanpa memikirkan imbas ke depannya. Seperti makan fast food atau minum alkohol terus-terusan karena rasanya enak, atau belanja barang mahal hanya karena ingin. Dari luar terlihat enak, tapi untuk jangka panjang itu menggerogoti diri kita.

Padahal dalam hidup, tidak ada yang namanya kesempurnaan dan kebahagiaan terus-menerus. Akan ada saatnya perasaan tersebut naik dan turun. Walau misal setiap hari kita memuaskan hasrat kita dengan alasan self-love, cepat atau lambat rasa nikmat tersebut akan menurun, bahkan hilang.

Yang salah dari sini, sebenarnya di fokusnya; Bukan kenikmatan jangka pendek yang kita fokuskan, tetapi pemberian kebaikan dan manfaat jangka panjang. Kita akan menyadari, kalau memilih manfaat jangka panjang, kita tidak merasakan kebahagiaan instant, malah justru tersiksa. Tapi kita tahu efek jangka panjangnya akan besar.

Hal ini mestinya dilandasi dengan kasih sayang. Sejatinya, rasa sayang adalah akar untuk melakukan kebaikan, agar diri sendiri atau orang yang kita sayangi berada di jalan yang benar. Dan walau namanya sayang, perasaan yang kita dapat tidak selalu enak. Seperti dinasihati atau dimarahi karena melakukan kesalahan, bukan mendiamkan orang tersebut terlena dengan kesalahannya karena alasan sayang.

Hal tersebut adalah tindakan sayang yang benar. Ironisnya, Banyak yang memakai alasan sayang untuk membiarkan kesalahan, karena tidak ingin menyakiti orang yang kita sayangi tersebut. Dan inilah salahnya kalau kita menargetkan kebahagiaan; tindakan etik dan moral diabaikan dengan alasan kebahagiaan.

Rasa sayang tersebut juga berlaku untuk diri sendiri. Sebagai contoh, meluangkan waktu untuk olahraga agar tubuh bisa sehat ketika tua nanti. Ini tentu tidak senyaman kita rebahan menonton netflix setiap hari. Tapi efeknya akan terlihat di jangka panjang dan ketika kita konsisten melakukannya.

Atau contoh lain, menabung dan berhemat sejak dini agar ketika tua kita memiliki simpanan. Lebih baik daripada sekedar berfoya-foya demi memuaskan nafsu bukan? Walau bukan berarti kita tidak boleh jajan; boleh saja asalkan sewajarnya.Mengikuti nafsu kita tidak akan ada habisnya.

Ada satu lagi contoh sayang yang menurutku penting tapi jarang dibahas: jujur ke diri sendiri dan bertindak jujur sesuai apa yang dibutuhkan. Dalam konteks ini adalah perasaan-perasaan negatif yang mungkin muncul.

Biasanya karena perasaan tersebut memalukan, akhirnya hanya dipendam sendiri atau dialihkan dengan toxic positivity. Kita tidak melihat langsung perasaan tersebut apa adanya dan menghindari sejauh mungkin. Menghadapi perasaan hati kita sendiri -sekali lagi, tidak enak. Siapa yang mau menghadapi rasa sedih dan depresi yang dirasakan? Lebih baik ditutupi dengan kesibukan, mantra positif, dan kebiasaan bahagia.

Masalahnya bukan mengatasinya; sesuatu yang salah perlu diatasi. Tapi, kalau kita tidak jujur dengan perasaan kita, Bagaimana kita mau menyembuhkan luka kalau kita tidak menerima adanya luka tersebut?

Kalau kita benar-benar sayang dengan diri kita, tentunya kita coba pelan-pelan memperbaiki hati kita tersebut. Itu sesungguhnya hal yang berat, tapi dengan pelan-pelan mencoba hal tersebut, merenungi kedalaman diri kita, dan berkenalan lebih lanjut, kita akan makin paham diri dan kenal lebih baik, serta lebih paham kenapa diri sendiri begini. Dan ketika kita sudah paham akar masalah yang membuat hati kita seperti ini, kita coba selesaikan pelan-pelan.

Terkadang kita tahu sumber masalahnya, tetapi tidak mau menghadapinya karena sakit dan merepotkan, apalagi kalau masalah tersebut disebabkan kebiasaan kita sendiri. Lebih baik ditoleransi dan tetap menikmati kebiasaan buruk kita daripada menyelesaikan akarnya.

Yang Aku ingin katakan adalah, jalanlah ke arah kebaikan dan kebenaran. Menuju jalan tersebut adalah bentuk sayang yang sesungguhnya. Bukan meraih kebahagiaan, karena Allah sudah menakdirkan kalau hidup di dunia ini akan naik turun. Meraih kebahagiaan belum tentu mengarahkan ke arah kebaikan dan kebenaran, tetapi berjalan ke arah kebenaran akan membawa kita ke kebahagiaan sejati, walau untuk menempuhnya mungkin tidak mudah dan kita akan diuji berbagai macam hal.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam