image-logo
Share soal pengalaman lari 5k untuk pertama kalinya, serta renungan soal kehidupan dan kebersamaan yang terpikirkan.
post
/post/refleksi-5k/
Pelajaran Kebersamaan dari Kompetesi 5k pertama

Pelajaran Kebersamaan dari Kompetesi 5k pertama

Waktu Membaca: 5 Menit
hero-image-refleksi-5k

Halo.. Di sini ada yg ikutan Sydney marathon hari ini? Atau ada yg rencana ikutan taun depan?
Aku cuma mau bilang.. Klo sempet n bisa ikutan taun depan, disempetin aja.. Ikutan yg mini (4.2 km), 10k atau yg full marathonmy..
Aku bukan seorang pelari.. Tp pengalaman hari ini lari, jd tau apa yg dirasain pelari.. Ternyata ga beda jauh sama proses belajar, spesifiknya perjalanan phd aku.. Wkwkwkwk
Bedanya di setiap 1 km nya di pinggir jalan ada yang orang yg nyemangatin pelarinya pake suara2.. Biar semangat lagi.. Dan ini yang ditunggu2.. "hyoo semangat 2 km lagi.." "hyoo.. Semangat 1 km lagi.."
Kayanya klo aku pelari dr dulu, aku tau klo merayakan setiap milestone sekecil apapun itu penting.. Aku tau penting juga belajar cara menyemangati diri sendiri gmana..
Weeew.. What an experience!! Hihihi..

Beberapa tahun lalu, ada senior kampus yang sharing pengalamannya ikut lari 5k. Beliau buka analoginya dengan studi PhD-nya.

Yah, lari 5k memang proses yaa.

Dulu yang aku tangkep hanya intinya saja, tapi tidak terlalu memikirkan lagi karena maknanya cukup umum ya. Hingga akhirnya aku merasakan lari 5k pertamaku juga, saat Telkomsel Digiland Run 2026.

Aku datang jam setengah 6, tapi info dari temanku jam 5 pagi pun sudah banyak orang. GBK jadi di-'merah'-kan oleh kemeriahan peserta lari. Menunggu countdown jam 6 (waktu mulai lari). Saat countdown menunjukkan angka 0, kembag api meluncur, tidak lupa dengan alunan musik yang menyemangati, mengiringi para peserta yang mulai berlari...

Karena aku tidak mendengarkan musik saat berlari, pelari-pelari di sekitarku menjadi pilihan distraksi utamaku dari keletihan kaki dan nafas yang tersengal-sengal. Ada yang larinya cepat, mulai jalan perlahan, lalu di pinggir jalan ada fotografer yang siap mengabadikan momen ngos-ngosan kita. Somehow melihat semua orang di sekitarku –baik tua maupun muda, dengan latar yang berbeda-beda–, berjuang meraih target yang sama, membuat letih ini tidak terlalu terasa.

Mulai masuk Km 3, letih mulai tidak tertahankan. Nafas mulai meminta kekurangan udara, dan melihat orang-orang di sekitar juga sama. Di pinggir jalan, kuperhatian mulai banyak orang-orang yang menyemangati; baik dengan yel-yel maupun tulisan lucu. Memang asli cuma indo yang joke begitu.

Lalu ada juga layar besar yang menampilkan wajah-wajah pelari yang lewat. banyak pelari yang menyiapkan pose terbaiknya walau mulai lelah.

Mendekati garis finish, semangat mulai bangkit kembali. Aku mulai memaksakan kaki untuk berlari menuju garis finish yang sudah terlihat di depan mata. "Sedikit lagi", pikirku. Alhamdulillah bisa finish sebelum 1 jam.

Saat selesai, kepala rasanya pusing. Maklum, ini lari 5k pertamaku; sebelumnya maksimal hanya 3km, jadi benar-benar keluar dari zona nyaman ya. Alhamdulillahnya, setelah itu disediakan refreshment serta medali untuk finisher.

Saat jalan, mulai merasakan kenapa banyak orang suka ikut even seperti ini, dan kenapa rasanya seru: Everyone is in the same path, same purpose, and in the end our effort is celebrated. Bahkan orang-orang pun banyak yang memberi semangat di pinggir jalan hingga kita sampai finish.

Kita tidak sendiri dalam lomba itu, dan usaha kita dihargai.

Dan mulai paham kenapa lari 5k sendirian lebih melelahkan dan membosankan; Kita sendiri, gaada medali di ujung, gaada yang menyemangati, dan pelari di sekitar kita punya progressnya dan tujuannya masing-masing.

Kita sendiri dalam perjalan ini, dan itu membosankan.

Sayangnya, hidup memang lebih banyak membosankannya. Tidak seperti agenda 5k, terutama sebagai orang dewasa. Beda dengan saat sekolah dan kuliah, tiap orang saat lulus memiliki kesibukan dan pekerjaan masing-masing. Saat kerja pun, walau satu tempat kita tidak selalu di jalan yg sama; punya pekerjaan masing-masing. Di tengah lelah tersebut, kita tidak tahu ujungnya dimana. Saat sudah sampai 'finish' pun, belum tentu ada yang merayakan. Setelah itu, kita memulai perjalanan baru lagi, tanpa berhenti.

Kita memang tidak bisa mengubah apa yang ada di hidup; yang kita bisa kontrol hanyalah resiliensi dan mindset kita; untuk belajar menikmati prosesnya, menyemangati diri sendiri, serta merayakan keberhasilan. Kita tidak bisa berharap orang-orang melakukannya untuk kita, karena setiap orang punya jalan kehidupannya masing-masing.

Dan dari ini semua, aku merenungi –dengan kesibukan sebagai orang dewasa–, betapa sangat berharganya punya teman, sahabat, atau keluarga yang bisa kita andalkan saat butuh. Orang-orang yang menyemangati kita, menangis untuk kita saat sedih, dan merayakan keberhasilan kita bersama. Itu priceless karena jadinya kita tidak sendiri dalam marathon bernama hidup ini. Melakukan itu semua bersama orang lain berbeda dengan hanya melakukannya sendiri...

Aku merefleksikan perjalanan kehidupanku ke belakang, dan mengingat orang-orang yang sudah membantuku hingga bisa ke titik ini, itu sungguh berharga dan bersyukur atas semua bantuannya tersebut. Aku tidak membayangkan, kalau misal aku sendiri memikul beban dan kesulitan semua ini.

Itu semua merupakan berkah dari Allah. Makin mengingat ini semua, betapa dalam perjalanan ini Allah sudah banyak sekali memberikan bantuan kepadaku dari berbagai arah. Bahkan di saat aku sendirian pun, Allah tetap selalu bersamaku. Yang tidak pernah tidur, melihat seluruh usaha dan jatuh bangun kita, serta menyiapkan yang terbaik untuk kita nantinya.


Merenungi kembali pesan dari seniorku dulu, yang ditekankan oleh beliau adalah proses belajar. Itu ada benarnya juga, karena belajar pun berproses. Termasuk hidup pun, berproses. Mungkin saat ini aku baru di km ke-2 atau km ke-3, tetapi semoga kita bisa mengingatkan diri kita masing-masing, kalau sekecil apapun langkahnya, selama kita tidak berhenti dan terus meluruskan niat, Allah akan membalas usaha kita nantinya.

Penulis: Zira Fariza

Blog ini tempat aku menuangkan isi pikiran yang bermacam-macam, mulai dari agama, hidup, atau curhatan kegiatan sehari-harinya. Kenal Lebih Dalam