image-logo
Renungan akan sulit namun pentingnya untuk bersifat lemah lembut saat tegas dan adil, serta hal-hal yang dapat membantu meraih hal tersebut.
post
/post/tegas-lembut-adil/
Keseimbangan antara Adil, Tegas, dan Lemah Lembut

Keseimbangan antara Adil, Tegas, dan Lemah Lembut

hero-image-tegas-lembut-adil

Foto dari Jeremy Thomas (Unsplash)

Kalau ada satu pelajaran terpenting dari banyaknya belajar dan bersosialisasi dengan orang banyak, adalah betapa sulitnya untuk bersikap tegas di atas kebenaran dengan lemah lembut, namun tetap berlaku adil.

Demi keharmonisan, terkadang kita harus mengorbankan ketegasan. Namun, ada kewajiban untuk mengatakan kebenaran, walau resiko dari hal tersebut adalah penolakan. Menyampaikan kebenaran dan tegas berarti melarang orang lain dari kebiasaan yang Ia lakukan. Biasanya muncul keretakan karena orang tidak mau mendengar masukan.

Bagaimana caranya kita bisa tetap ingat untuk menyampaikan kebenaran dengan lembut?

Ini menurutku kembali ke dua hal: Niat dan keadilan. niat perlu diluruskan memang karena Allah dan ingin orang tersebut berada di arah yang lurus; bukan karena kita ingin menang atau terlihat benar. Pun juga harus adil dan tepat, karena harus lihat situasi dan kondisi juga. Tidak semua orang bisa menerima kebenaran dengan cara yang sama, dan kondisi tiap orang berbeda-beda.

Lalu kondisi hati kita, apakah tulus atau tidak. Hati itu sungguh mudah sekali berubah. Satu waktu kita mengira kita tulus, tetapi kemudian itu berubah menjadi kesombongan dan keegoisan. Dan itu benar-benar berimbas pada keadilan yang kita berikan.

Kemudian juga dengan kebijakan. dengan kebijakan, kita bisa paham imbas dari yang kita katakan. Terkadang, ada suatu waktu atau momen yang kita rasa lebih baik diam, dan kapan mulai berkata. Karena kalau tidak hati-hati dan jeli, kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah lebih banyak menimbulkan mudharat. Menghindari mudharat lebih didahulukan dari mendatangkan mashalat.

Perumpamaannya melempari berlian dengan kasar, hingga melukai orang lain. Orang tersebut tidak tahu kalau yang Ia dapatkan adalah berlian; Ia hanya tahu kalau Ia disakiti. Pun dengan memberikan berlian saat Ia sedang kelebihan muatan, yang ada Ia akan mengira kita menambah bebannya. Beda kalau kita berikan dengan lembut dan hatinya sedang dalam kondisi baik, tentu responsnya akan lebih baik.

Makanya, tidak semua orang bisa jadi da'i.

Kurang lebih seperti pelajaran mentoring yang dulu aku tulis. Namun dalam sosialisasi, bersikap adil, lembut, dan melihat situasi dan kondisi lebih ditekankan lagi.

Jujur, makin kesini aku merasa banyak yang perlu aku pelajari, terutama dalam bergaul dengan manusia. Ini bukan hal yang bisa dipelajari dari buku saja, namun juga pengalaman langsung. Dan tentunya, aku makin sadar akan banyaknya kekuranganku, dan pentingnya untuk berhati-hati.

semakin aku belajar kembali soal agama, kehidupan, dan sosialisasi ini, makin takut aku berkata-kata, karena mudah sekali terjerumus dalam ketidakadilan dalam menilai dan menasihati. Tetapi di sisi lain, kewajiban menasihati tetap tidak bisa dilepas, jadi mungkin aku tetap menasihati tetapi lebih hati-hati.

Semoga Allah memberikan kemudahan untuk melembutkan hati ini, dan dibersihkan dari penyakit hati yang merusak seperti takabbur, riya', sum'ah, ujub, dan hasad.

Penulis: Zira Fariza